Di Buli Karena Layang-layang

Mak....
Terus terang saya prihatin dengan kondisi anak-anak jaman sekarang. Dulu, ketika saya masih kecil, anak-anak sebaya saya, cenderung sopan dan menghormati orang tua. Kalaupun ada anak nakal, kenakalan mereka masih bisa ditolerir.

Tapi, yang terjadi saat ini seolah berbalik 180 derajat. Anak-anak cenderung semau gue, tak mau menghormati yang tua. Dan kejadian baru-baru ini hampir membuat saya geram. Fawaz tiba-tiba dihadang segerombolan anak, yang masih tetangga saya, sewaktu berangkat mengaji ke masjid. Mereka memberhentikan laju sepeda Fawaz dengan paksa.

sumber disini


Taukah apa yang mereka inginkan? Ternyata anak-anak itu meminta ganti rugi layang-layang raksasa mereka yang patah sebesar lima puluh ribu rupiah. Fawaz hanya bisa berbohong demi menghindari tonjokan anak-anak itu. Ia akan membayar uang itu keesokan harinya.

Pasti emak pada bertanya, "loh kok bisa?"

Jadi ceritanya begini. Ketika libur semester beberapa bulan yang lalu, saya dan Fawaz pulang ke Blitar. Kurang lebih satu bulan lamanya saya tinggalkan rumah dinas. Meski begitu ada suami saya yang selalu membersihkannya. Memang dengan kesibukan suami yang super padat, menyebabkan rumah kami terlihat sepi mulai pagi hingga menjelang sore hari.

Kesempatan inilah yang digunakan anak-anak komplek untuk memanfaatkan pekarangan rumah kami yang masih kosong. Mereka menciptakan layang-layang raksasa. Memang saat liburan bertepatan dengan musim kemarau dan angin kencang, sehingga mereka memanfaatkannya untuk menaikkan layang-layang.

Yang bikin kesel nih mak, anak-anak itu seolah tidak bertanggung jawab. Pekarangan kami dikotori, tembok rumah kami dicorat-coret, bahkan tanaman yang tumbuh di pekarangan di potong dan di rusak. Teguran tetangga tidak diperhatikan, bahkan teguran suami sayapun dianggapnya angin lalu.

Dan yang sangat menjengkelkan, mereka menyalakan kran air didepan rumah tanpa menutupnya kembali. Akibatnya saya membayar tagihan air yang lebih besar dari sebelumnya. Sekali lagi, ketika diingatkan, mereka selalu menyanggah. Mereka bilang pekarangan itu milik umum. Duh nyesek rasanya.

Apalagi ketika layang-layang itu sudah jadi, mereka menyimpannya di pekarangan rumah saya. Jadilah pekarangan rumah saya sebagai garasi layang-layang raksasa. Namun saya tak pernah peduli, ketika layang-layang itu dijadikan tempat tidur kucing liar, atau bahkan dijadikan tempat makan kucing yang baru saja mendapat buruan.

Dan ketika suami saya membersihkan rumput yang telah meninggi, layang-layang itupun diletakkan diujung pagar. Tanpa merusak, atau mematahkannya. Ternyata itulah awal tragedi. Anak-anak itu menuduh suami saya yang merusak layang-layang, dan Fawaz-lah korbannya. Setiap sore ia selalu dihadang anak-anak itu yang minta ganti rugi layang-layangnya. Padahal andai mereka tahu, layang-layang itu rusak karena kucing, pasti Fawaz tak kenal imbasnya.

Saya bahkan merasa cemas setiap kali membiarkan Fawaz pergi seorang diri ke masjid, membayangkan kasus-kasus bully yang marak terjadi. Tapi sayapun memberanikan diri untuk mengingatkan anak-anak itu, bahwa Fawaz tidak bersalah. Bahkan, saya utarakan kejadian itu kepada para tetangga agar sama-sama mengingatkan.

Dan usut punya usut, anak-anak itu memang tidak diperhatikan orang tuanya. Orang tuanya yang sibuk mencari uang, membiarkan anaknya tumbuh apa adanya tanpa didikan, sehingga mereka tidak mengenal tata krama, sopan santun dan etika baik. Bahkan, untuk kebutuhan makan sehari-haripun mereka tidak tercukupi, kadang mereka harus minta makan ke tetangga. Akibatnya, mencuri, merampas dan meminta itulah yang kerapkali mereka lakukan. Sungguh ironi.

Mak, mari kita belajar menjadi orang tua yang baik. Anak adalah amanah yang harus kita rawat dan didik dengan baik. Bukankah kita malu bila suatu saat mendapati anak kita mencuri atau mengambil sesuatu yang bukan haknya? Sebelum anak kita terkena pengaruh lingkungan buruk, yuk kita berikan pengetahuan agama dan pendidikan yang baik kepada anak kita. Tapi jangan lupa, perhatian dan kasih sayang wajib kita berikan setiap hari lho mak.....

Komentar

  1. Aduhhh ngeri ya mak... budaya ngebully bahkan sdh menjangkiti anak2. Jng sampe deh anak kita jd korban bully atau jd pembully. Saya bersyukur gk diizinin suami bekerja jd bisa terus ngejaga anak.

    BalasHapus
  2. Menyedihkan ya mak...prilaku anak2....

    BalasHapus
  3. Setuju bangeeeeet, perhatian dan kasih sayang mesti diberikan orangtua kepada anak-anaknya setiap hari. Ya, setiap hari :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer