Maak…..ini kali pertama Fawaz mengikuti Persami (Perkemahan
Sabtu – Minggu) di sekolahnya. Sebenarnya saya tidak mengijinkan, karena faktor
cuaca yang tidak mendukung. Namun Fawaz ngotot ingin ikut, dan meminta saya
menandatangani surat ijin dari kakak pembinanya.
![]() |
ups...foto pramuka tidak ada hehehe.... |
Dengan berat hati saya menandatangani surat itu. Selain cuaca
yang tidak mendukung, usianya yang masih 9 tahun menjadi alasan saya
berikutnya. Dulu, saya juga sering ikut kemah, namun disaat usia saya sudah 11
tahun, jadi saya sudah bisa mengurus segala sesuatu sendirian. Sebaliknya,
membayangkan kebiasaan Fawaz dirumah, membuat saya gamang untuk melepasnya.
Tetapi rasa itu akhirnya saya singkirkan, begitu melihat
teman-teman satu regunya datang ke rumah untuk berlatih bersama. Mereka tergabung
dalam regu “Banteng”. Dari kejauhan saya amati latihan mereka. Mereka akan
menampilkan tarian kreasi yang saya kira sudah cukup kreatif untuk kalangan
anak laki-laki kelas 4 SD.
Sementara Fawaz, ternyata ia ditunjuk untuk mengikuti
fashion show. Semula saya tidak tahu, kostum apa yang akan dipakainya nanti,
karena Fawazpun kebingungan ketika saya tanya. Akhirnya saya berinisiatif untuk
memilihkan busana casual, busana santai namun tetap terlihat elegant.
Tahukah mak apa yang terjadi selanjutnya? Begitu hari H
tiba, sayapun dibuat kelabakan. Saya harus menyiapkan segala sesuatu mulai dari
peralatan mandi, peralatan sholat, tikar, makanan dan kaos. Bahkan saya harus
keliling dari satu toko ke toko lain untuk mencari kaos pramuka, ternyata tak
satupun toko yang menjualnya. Sayapun berputar mencari pinjaman, sampai
akhirnya kaos itu saya dapatkan.
Saya berharap hari itu akan turun hujan lebat, sehingga
persami dibatalkan. Entahlah, hati saya merasa berat melepas Fawaz, mengingat
keadaan sekolah yang jorok, kadang anjing yang berkeliaran suka membuang
hajatnya sembarangan. Belum lagi nyamuk yang berkeliaran dimalam hari, pastinya
akan memangsa tubuh Fawaz yang menggiurkan.
Ternyata Allah berkehendak lain, cuaca sangat terang. Sementara
jadwal saya di komplek juga padat. Sore arisan RT, malamnya pengajian ibu-ibu. Akhirnya
saya putuskan untuk mengantar Fawaz ke sekolah. Dari luar gerbang, teman-teman
Fawaz menghampiri saya.
“Tante, Fawaz sudah bawa kostum?”
“Kostum apa emangnya?”
“Pakaian pesta, celana hitam, hem putih, jas hitam, pakai
dasi kupu-kupu!”
“Haaah…..”
Sumpah mak, saya jadi bingung menjawabnya. Membayangkan Fawaz
yang pemalu, rasanya tidak mungkin akan berpakaian seperti itu. Akhirnya saya
bernegosiasi dengan ketua regunya, meminta agar pakaian pestanya berupa baju
casual yang santai tetapi elegant. Ternyata sang ketua menyetujuinya. Sayapun segera
hunting baju di toko terdekat, mengingat Fawaz sama sekali tidak mempunyai baju
seperti itu di rumah.
Saya pikir dengan membekalinya snack, minum, uang dan
berbagai perlengkapan lainnya sudah cukup untuk Fawaz. Ternyata sepulang dari
arisan RT, saya mendapat BBM dari teman, diminta cepat datang ke sekolah, Fawaz
belum makan, sementara jam makan tinggal 10 menit lagi. Wiiih….saya kelabakan. Secepat
kilat saya menuju B’Express Chicken, bermaksud membelikan sepaket nasi ayam.
Setelahnya saya langsung ke sekolah, ternyata waktu makan sudah habis.
Haripun makin gelap, hujan mulai rintik-rintik. Saya menatap
Fawaz dengan wajah cemberutnya karena tidak bisa makan. Nasi yang saya bawakan
tak diterimanya, karena takut ketahuan kakak Pembina. Meski demikian, dia sibuk
membantu mengangkat meja sebagai panggung.
Malam harinya hujan makin deras. Namun api unggun tetap
menyala terang. Atraksi tiap-tiap regu tetap dipertontonkan. Anak-anak tak
menghiraukan air hujan yang mulai membasahi tubuhnya. Ada rasa haru yang
menyembul dalam dada saya, saya mencemaskan kesehatan mereka, termasuk Fawaz. Namun
saya juga takjub melihat penampilan mereka yang sangat menghibur. Ada tarian
tradisional, tarian modern atau bahkan nyanyian, yang semuanya merupakan hasil
kreatifitas masing-masing regu.
Setelah atraksi selesai, dilanjutkan peragaan busana. Karena
kami tinggal di Bali, maka peragaan busana ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama
adalah peragaan busana adat ke Pura, sedang sesi kedua adalah peragaan busana
pesta. Saya kembali takjub dan terhibur menyaksikan acara ini. Ditengah guyuran
air hujan, dengan panggung yang dibuat dari jejeran meja, bahkan menggunakan
penerangan seadanya, berupa senter, tak menyurutkan para kontestan untuk
meliuk-liukkan tubuhnya diatas panggung.
Tepat jam 10 malam, acara diluar kelas dihentikan. Anak-anak
memasuki kelasnya masing-masing. Kemah kali ini menggunakan ruang kelas sebagai
tempat istirahat, mengingat hujan yang makin lebat. Dan saya, akhirnya
meninggalkan Fawaz beserta ruangannya untuk kembali ke rumah. Di rumah saya
selalu berharap ia akan baik-baik saja, mengingat seluruh tubuhnya basah oleh
air hujan dimalam hari.
Menurut informasi dari kakak Pembina, kegiatan kemah itu akan
berakhir keesokan harinya pada jam 8 pagi, mengingat cuaca yang tidak
mendukung. Maka keesokan harinya, saya meminta suami untuk menjemput Fawaz ke
sekolah. Lama saya menunggu di rumah, hingga akhirnya Fawazpun pulang ke rumah
dengan wajah cemberut.
Tahukah mak apa yang terjadi dengan Fawaz? Perlengkapan
pramukanya hilang, ia tidak dapat tidur karena teman-temannya berisik, ia juga
tidak bisa mandi karena kamar mandinya jorok. Duhh….setelah saya mandikan
tubuhnya, akhirnya Fawaz mulai merajut mimpinya di pulau kapuk. Seharian ia
balas dendam, tidur di kasur empuk dalam ruangan ber-AC.
Saya bersyukur Fawaz pulang dengan sehat, tak ada yang
dikhawatirkan dengan guyuran air hujan. Namun satu hal yang bisa saya jadikan
hikmah, mengijinkan Fawaz mengikuti kemah sama halnya menjadikannya anak yang
mandiri. Bahkan, ketika sekali lagi saya tanya, akankah dia ikut kemah setelah
ini? Dengan antusiasnya, dia jawab pasti ikut kemah kembali. Hmm….semoga
pengalaman kemah pertama ini menjadikan Fawaz tumbuh menjadi anak yang
pemberani dan mandiri.
Betul mbak, semoga dengan berkemah anaknya bisa belajar mandiri
BalasHapus