Maaak.....seringkali kita merasa kikuk untuk menjalin
persahabatan. Kadang kala jabatan, status sosial atau asal usul keluarga
menjadi penghalang jalinan persahabatan. Tak ayal kita menganggap diri kita
paling rendah dan merasa tidak pantas berada diantara orang-orang yang tingkat
ekonomi atau jabatannya lebih tinggi dari kita.
![]() |
Di Bali Fawwaaz tak kesulitan menjalin persahabatan |
Tidak perlu jauh-jauh, bayangkan antara seorang wanita
karier dengan ibu rumah tangga. Pasti ibu rumah tangga menganggap dirinya
rendah sehingga merasa tidak dihargai. Atau seseorang yang jabatan di kantornya
lebih rendah dari temannya, maka ia merasa tidak pantas melanjutkan
persahabatan. Lebih baik ia mundur dan menjauh.
Saya rasa itu hanyalah sebuah praduga. Padahal andai kita
pandai menjalin hubungan, tentu tidak demikian pada kenyataannya. Persahabatan yang
baik adalah jalinan yang tidak pernah membedakan atau membandingkan. Ingat,
segala yang melekat dalam diri kita baik itu harta, pangkat, jabatan dan
sebagainya, hanya milik Allah semata.
Allah telah menciptakan skenario yang berbeda-beda pada
umat-Nya. Bukan berarti Ia pilih kasih, namun semua keadaan yang membelenggu
umat-Nya adalah sebuah cobaan. Ada yang dicoba dengan kekayaan dan jabatan yang
tinggi. Ada pula yang dicoba kehidupan yang serba susah. Intinya, dengan
berbagai cobaan ini, manusia dapat menghadapinya dengan hati lapang sembari
mengucap syukur dan menerimanya dengan ikhlas.
Berbicara mengenai persahabatan, saya justru terinspirasi
oleh persahabatan Fawaz. Kehidupan yang berpindah-pindah dari satu pulau ke
pulau lain, justru membuatnya mempunyai banyak teman. Dulu ketika masih di
Papua, ia sering berteman dengan putra daerah tanpa memandang risih atau kikuk.
Begitu pindah ke Jawa, iapun kembali menjalin hubungan dengan anak-anak Jawa. Kini,
disaat kami menetap di Bali, Fawaz tak canggung bersahabat dengan anak-anak
Bali yang mayoritas beragama Hindu. Merekapun saling menerima dan bersahabat
dengan akrab.
Bukan hanya itu, persahabatan anak-anakpun tak pernah memandang
status sosial dan jabatan orang tuanya. Fawaz bahkan akrab dengan anak mas
penjual es degan yang biasa mangkal di asrama kami. Bahkan, ia juga akrab
dengan anak atasan suami saya. Hampir setiap minggu ia diajak serta rekreasi di
tempat-tempat wisata. Sama sekali tak ada jarak atau jurang pemisah pada
persahabatan mereka.
Melihat persahabatan anak-anak, sayapun jadi mikir, andai
kita-kita para orang tua bersahabat layaknya anak-anak, tentunya jalinan itu
akan terasa indah. Tak ada lagi perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin. Tak
ada juga perbedaan antara yang bekerja atau yang pengangguran.
Terbayang kala dulu masih sekolah, persahabatan itu terjalin
demikian indahnya. Namun ketika masa sekolah itu berlalu dan masing-masing
telah berkeluarga, hubungan itu menjadi hambar. Persahabatan jadi
terkotak-kotak. Yang bekerja di instansi pemerintahan ngumpul jadi satu, yang
karyawan perusahaan ngumpul jadi satu, dan yang pengangguran mundur dengan
telak karena minder. Sungguh amat disayangkan.
Andai mereka melihat persahabatan anak-anak yang tulus dan
tak pernah memandang perbedaan, saya yakin pengkotakan itu tak akan pernah
terjadi. Yuk mak kita rubah cara pandang kita tentang arti persahabatan. Jangan
lagi memandang terlalu jauh untuk sebuah persahabatan. Allah menciptakan kita
sama, mengapa justru kita yang merasa berbeda? Lebih baik kita jalin
persahabatan tanpa sebuah prasangka.
Iya mak. Pertemanan anak-anak itu memang natural. Saya juga tidak pernah mendapati anak-anak berteman karena memandang status sosial. Salam kenal mak
BalasHapusTapi kalo di sinetron persahabatan anak SD aja udah penuh dengan drama ya mak hehe. Salut buat anaknya :)
BalasHapus