Mak.....apa khabarnya? Semoga sehat semuanya ya, dan jangan
bosan kalau saya kembali hadir dengan ocehan tentang anak-anak.
Terus terang akhir-akhir ini saya sering mengamati tingkah
laku teman-teman Fawaz. Bukan bermaksud membeda-bedakan, namun saya ingin
mengetahui dengan teman seperti apa Fawaz bergaul. Saya tidak ingin Fawaz salah
memilih teman, karena bukan tidak mungkin ada diantara teman-temannya yang
mempunyai kebiasaan buruk, sehingga perlahan mempengaruhi kebiasaannya.
Mata saya tiba-tiba tertuju pada seorang anak yang bernama
Riki. Hampir setiap sore ia datang ke rumah main bersama Fawaz. Ketika bermain
mereka akur-akur saja, bahkan mereka terlihat cocok. Tetapi Fawaz tidak bisa
berteman hanya dengan satu orang saja. Ia bahkan sangat welcome. Siapapun dia
ajak berteman. Inilah yang membuat saya harus membuka mata lebar-lebar,
mengamati seperti apa teman-teman Fawaz.
Suatu saat Riki datang ke rumah mencari Fawaz. Ternyata
Fawaz sudah dikerumuni 5 orang temannya, yang sebenarnya sudah kenal dengan
Riki. Lantas mereka mengajak Riki gabung bermain bersama. Dari dalam rumah saya
amati mereka. Mereka terlihat sangat menikmati sebuah permainan tradisional.
Namun tiba-tiba Riki berdiri dengan wajah muram dan meninggalkan permainan itu.
Tak begitu lama saya menerima bbm dari ibunya Riki yang
menyampaikan jika Riki diejek oleh seseorang hingga ia marah dan meninggalkan
permainan itu. Saya kaget, sepengamatan saya mereka bermain baik-baik saja
tanpa ada permusuhan. Lantas saya crosscheck ke anak-anak. Nyatanya mereka
hanya bercanda tanpa menyinggung siapapun.
Rupanya kejadian ini sudah berulangkali terjadi. Setiap
bermain dengan teman-temannya yang berjumlah banyak Riki selalu ngambek dan
pulang ke rumah. Saya pun bisa menyimpulkan bahwa Riki tidak bisa berteman
dengan banyak anak. Kalau ia sudah cocok dengan satu teman, maka ia hanya ingin
bermain dengan anak itu tanpa dicampuri oleh anak-anak lain.
Ini sama artinya pergaulan Riki sangat sempit. Setelah saya
selidiki, ternyata ia sering mendapat perlakuan yang kejam dari ibunya. Sejak
kecil ibunya selalu membatasinya bergaul. Mau kesini tidak boleh, mau kesana
tidak boleh. Bagi ibu Riki, anaknya lebih nyaman bermain di dalam rumah.
Kalaupun ingin bermain di luar rumah, maka ia harus memastikan teman anaknya
adalah anak baik. Selebihnya tidak boleh.
Bahkan yang lebih memprihatinkan, setiap Riki ketahuan
membantah, maka pukulan keras itu mendarat di kepalanya. Tak jarang kepalanya
sering dicelup-celup kedalam bak kamar mandi bila Riki tetap membantah. Inilah
yang membuat Riki sering ketakutan dan tiba-tiba menangis.
Mak....kita harus ingat bahwa anak bukanlah robot yang dapat
kita gerakkan menggunakan remote control sesuka kita. Meski kita adalah orang
tuanya, bukan berarti kita harus membatasi ruang geraknya. Munculnya sikap suka
pilih teman, ketakutan yang teramat sangat atau bahkan menangis secara
tiba-tiba, itu karena pola asuh orang tua yang salah.
Melarang anak tidak harus dengan kekerasan. Bahkan jangan
sampai anak dikekang berlebihan. Meski membiarkan anak bebas sebebas-bebasnya
juga tidak boleh. Hendaknya ada batasan yang perlu kita terapkan, yang membuat
anak masih bisa leluasa bergerak. Kalau kita membatasi ruang gerak anak, bisa
jadi ia akan melakukan sebuah larangan secara diam-diam. Contohnya, bila orang
tua tidak membolehkan anaknya main di rumah, tentunya disaat orang tua tidak
ada di rumah, maka si anak akan leluasa bermain sebebas-bebasnya.
Sejauh ini saya masih memberi ruang gerak kepada Fawaz untuk
bermain di luar rumah. Namun saya selalu mengajarkan untuk selalu terbuka dalam
segala hal. Ketika akan bermain tak lupa saya tanyakan mau main kemana, dengan
siapa bermain, serta mau main apa. Demikian juga setelah selesai bermain,
kembali saya tanyakan hal yang sama. Dan kebiasaan ini rupanya membuat Fawaz
menjadi terbuka. Lama kelamaan dia selalu menceritakan apa yang didengar dan
dilihatnya kepada saya.
Saya rasa sebagai orang tua sangat perlu menjalin hubungan
yang lebih akrab dengan anak. Berilah kasih sayang, berilah pengertian, niscaya
anak pun akan menganggap orang tua sebagai teman untuk berbagi cerita. Dari
sinilah akhirnya sang anak akan terbuka, dan senantiasa menceritakan apa yang
dialami dan dirasakan. Demikianlah yang terjadi dengan Fawaz saat ini, ia tumbuh
menjadi anak yang selalu terbuka dalam menerima persahabatan. Dengan siapapun
dia nyaman bergaul, tidak pernah memandang perbedaan. Tinggal saya sebagai
orang tuanya yang harus selektif dan memberinya pengertian.
Nah mak.....sudahkah emak-emak mengamati pergaulan buah hati
bersama teman-temannya? Kalau belum, yuk segera selektif, jangan sampai
pergaulan diluar rumah mempengaruhi atau meracuni anak kita ya mak.........
kalau anak saya bisa bermain dengan siapa saja, tetapi harus diajak atau disapa dulu. memang karakternya sudah begitu.
BalasHapusSedih banget, mak. :( Aku jadi inget teman kecilku dulu pun kakaknya selalu milih2 dalam bergaul, jadi hanya yang selevel aja yang biasanya bisa dekat dan main ke rumah. Padahal kalau gitu anaknya jadi anti sosial ya.
BalasHapusDuhhh prihatin banget... insyaallah saya sudah cukup selektif soal pergaulan anak2 saya sejak dini . Trima kasih sharingnya mak :)
BalasHapusAnak-anak memang kayak pelangi Mak, warna-warni. Di kelas anak saya, ada yang kalem...anteng, klo temenan sama yang cocok aja...kt ayahnya sih krn dr kecil tinggal di kompleks perumahan, trus stlh pindah ke kmpung...jd susah membaur. Sebagai ibu, klo aku ga mslh anak2 main di luar...asal sudah tidur siang, biar mlmya ga teler wktu bljr
BalasHapus