Kurikulum 2013 Dihapus?

Mendengar berita dihapusnya Kurikulum 2013, tentunya ada sebagian yang bersorak gembira. Terutama para orang tua yang selama ini ikut pusing mendampingi buah hatinya belajar. Mungkin sebagian guru/pengajar demikian halnya. Mereka yang belum siap mengajar sesuai K-13, tentunya menyambut gembira berita ini.

Lho mengapa harus dihapus? Bukankah sebagian sekolah sudah menerapkannya? Apakah tidak rugi? Perencanaan K-13 yang meliputi berbagai hal, mulai dari penyediaan sarana dan prasarana, memberikan bimbingan kepada Kepala Sekolah dan para guru, pendistribusian buku dan lain sebagainya, tentunya menelan biaya banyak. Bila program ini dihentikan seketika, otomatis negara akan menanggung kerugian.


Bahkan, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menghimbau kepada sekolah-sekolah untuk kembali menerapkan Kurikulum 2006 atau KTSP. Menanggapi hal ini, saya merasa iba melihat pendidikan yang diterapkan di Indonesia. Anak-anak seolah menjadi tumbal dari sebuah uji coba.

Bayangkan, anak-anak SD, yang harusnya diberi materi sesuai tingkatan kelasnya, tiba-tiba harus dijejali berbagai materi. Materi yang seharusnya belum diajarkan, terpaksa ditelan mentah-mentah. Syukur-syukur bisa memahami, kalau tidak?

Disaat mereka sudah nyaman dengan sebuah cara pembelajaran, tiba-tiba harus menerima cara baru. Bukankah ini makin membingungkan anak-anak? Kalau sudah demikian, bagaimana negara bisa mencetak generasi-generasi cerdas?

Sebagai orang tua, saya hanya bisa berharap semoga pemerintah baru lebih bisa memahami karakter anak bangsa, sehingga mereka tidak sesuka hati menjadikan anak-anak sebagai ajang uji coba. Yang dikhawatirkan semangat belajar akan mengendor, bahkan mereka akan mengangkap sekolah sebagai momok yang ditakuti.

Dalam pandangan saya, K-13 sebenarnya masih bisa diterapkan dalam lingkungan pendidikan kita, asal semua sarana dan prasana pendukungnya siap. Dalam artian kepala sekolah, guru, alat-alat penunjang, buku-buku serta murid sebagai penerima K-13 saling mendukung dan sudah memahami cara menerapkan K-13.

Saya sangat terkejut mendengar dihapusnya Kurikulum 2013. Kok secepat itu? Demi menjawab rasa penasaran saya, akhirnya surat edaran Mendikbud yang tadinya hanya sepotong, saya cari salinan aslinya. Dan inilah isi surat yang sesungguhnya:

Nomor : 179342/MPK/KR/2014 5 Desember 2014
Hal : Pelaksanaan Kurikulum 2013
Yth. Ibu / Bapak Kepala Sekolah
di
Seluruh Indonesia
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Semoga Ibu dan Bapak Kepala Sekolah dalam keadaan sehat walafiat, penuh semangat dan bahagia saat surat ini sampai. Puji dan syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya pada Ibu dan Bapak serta semua Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang telah menjadi pendorong kemajuan bangsa Indonesia lewat dunia pendidikan.
Melalui surat ini, saya ingin mengabarkan terlebih dahulu kepada Kepala Sekolah tentang Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan pelaksanaan Kurikulum 2013, sebelum keputusan ini diumumkan kepada masyarakat melalui media massa.
Sebelum tiba pada keputusan ini, saya telah memberi tugas kepada Tim Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 untuk membuat kajian mengenai penerapan Kurikulum 2013 yang sudah berjalan dan menyusun rekomendasi tentang penerapan kurikulum tersebut ke depannya.
Harus diakui bahwa kita menghadapi masalah yang tidak sederhana karena Kurikulum 2013 ini diproses secara amat cepat dan bahkan sudah ditetapkan untuk dilaksanakan di seluruh tanah air sebelum kurikulum tersebut pernah dievaluasi secara lengkap dan menyeluruh.
Seperti kita ketahui, Kurikulum 2013 diterapkan di 6.221 sekolah sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan di semua sekolah di seluruh tanah air pada Tahun Pelajaran 2014/2015. Sementara itu, Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 baru dikeluarkan tanggal 14 Oktober 2014, yaitu tiga bulan sesudah Kurikulum 2013 dilaksanakan di seluruh Indonesia.
Pada Pasal 2 ayat 2 dalam Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 itu menyebutkan bahwa Evaluasi Kurikulum bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai:
1. Kesesuaian antara Ide Kurikulum dan Desain Kurikulum;
2. Kesesuaian antara Desain Kurikulum dan Dokumen Kurikulum;
3. Kesesuaian antara Dokumen Kurikulum dan Implementasi Kurikulum; dan
4. Kesesuaian antara Ide Kurikulum, Hasil Kurikulum, dan Dampak Kurikulum.
Alangkah bijaksana bila evaluasi sebagaimana dicantumkan dalam pasal 2 ayat 2 dilakukan secara lengkap dan menyeluruh sebelum kurikulum baru ini diterapkan di seluruh sekolah. Konsekuensi dari penerapan menyeluruh sebelum evaluasi lengkap adalah bermunculannya masalah-masalah yang sesungguhnya bisa dihindari jika proses perubahan dilakukan secara lebih seksama dan tak terburu-buru.
Berbagai masalah konseptual yang dihadapi antara lain mulai dari soal ketidakselarasan antara ide dengan desain kurikulum hingga soal ketidakselarasan gagasan dengan isi buku teks. Sedangkan masalah teknis penerapan seperti berbeda-bedanya kesiapan sekolah dan guru, belum meratanya dan tuntasnya pelatihan guru dan kepala sekolah, serta penyediaan buku pun belum tertangani dengan baik. Anak-anak, guru dan orang tua pula yang akhirnya harus menghadapi konsekuensi atas ketergesa-gesaan penerapan sebuah kurikulum. Segala permasalahan itu memang ikut melandasi pengambilan keputusan terkait penerapan Kurikulum 2013
kedepan, namun yang menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan ini adalah kepentingan anak-anak kita.
Maka dengan memperhatikan rekomendasi tim evaluasi implementasi kurikulum, serta diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, saya memutuskan untuk:
1. Menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menerapkan satu semester, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2014/2015. Sekolah-sekolah ini supaya kembali menggunakan Kurikulum 2006. Bagi Ibu/Bapak kepala sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, mohon persiapkan sekolah untuk kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Harap diingat, bahwa berbagai konsep yang ditegaskan kembali di Kurikulum 2013 sebenarnya telah diakomodasi dalam Kurikulum 2006, semisal penilaian otentik, pembelajaran tematik terpadu, dll. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi guru-guru di sekolah untuk tidak mengembangkan metode pembelajaran di kelas. Kreatifitas dan keberanian guru untuk berinovasi dan keluar dari praktik-pratik lawas adalah kunci bagi pergerakan pendidikan Indonesia.
2. Tetap menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah tiga semester ini menerapkan, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan menjadikan sekolah-sekolah tersebut sebagai sekolah pengembangan dan percontohan penerapan Kurikulum 2013. Pada saat Kurikulum 2013 telah diperbaiki dan dimatangkan lalu sekolah-sekolah ini (dan sekolah-sekolah lain yang ditetapkan oleh Pemerintah) dimulai proses penyebaran penerapan Kurikulum 2013 ke sekolah lain di sekitarnya. Bagi Ibu dan Bapak kepala sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, harap bersiap untuk menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013. Kami akan bekerja sama dengan Ibu/Bapak untuk mematangkan Kurikulum 2013 sehingga siap diterapkan secara nasional dan disebarkan dari sekolah yang Ibu dan Bapak pimpin sekarang. Catatan tambahan untuk poin kedua ini adalah sekolah yang keberatan menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013, dengan alasan ketidaksiapan dan demi kepentingan siswa, dapat mengajukan diri kepada Kemdikbud untuk dikecualikan.
3. Mengembalikan tugas pengembangan Kurikulum 2013 kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pengembangan Kurikulum tidak ditangani oleh tim ad hoc yang bekerja jangka pendek. Kemdikbud akan melakukan perbaikan mendasar terhadap Kurikulum 2013 agar dapat dijalankan dengan baik oleh guru-guru kita di dalam kelas, serta mampu menjadikan proses belajar di sekolah sebagai proses yang menyenangkan bagi siswa-siswa kita.
Kita semua menyadari bahwa kurikulum pendidikan nasional memang harus terus menerus dikaji sesuai dengan waktu dan konteks pendidikan di Indonesia untuk mendapat hasil terbaik bagi peserta didik. Perbaikan kurikulum ini mengacu pada satu tujuan utama, yaitu untuk meningkatkan mutu ekosistem pendidikan Indonesia agar anak-anak kita sebagai manusia utama penentu masa depan negara dapat menjadi insan bangsa yang: (1) beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, mandiri, demokratis, bertanggung jawab; (2) menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) cakap dan kreatif dalam bekerja. Adalah tugas kita semua untuk bergandengan tangan memastikan tujuan ini dapat tercapai, demi anak-anak kita.
Pada akhirnya kunci untuk pengembangan kualitas pendidikan adalah pada guru. Kita tidak boleh memandang bahwa pergantian kurikulum secara otomatis akan meningkatkan kualitas pendidikan. Bagaimanapun juga di tangan gurulah proses peningkatan itu bisa terjadi dan di tangan Kepala Sekolah yang baik dapat terjadi peningkatan kualitas ekosistem pendidikan di sekolah yang baik pula. Peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan akan makin digalakkan sembari kurikulum ini diperbaiki dan dikembangkan.
Pada kesempatan ini pula, saya juga mengucapkan apreasiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi yang telah Ibu dan Bapak Kepala Sekolah berikan demi majunya pendidikan di negeri kita ini. Dibawah bimbingan Ibu dan Bapak-lah masa depan pendidikan, pembelajaran, dan pembudayaan anak-anak kita akan terus tumbuh dan berkembang. Semoga berkenan menyampaikan salam hangat dan hormat dari saya kepada semua guru dan tenaga kependidikan di sekolah yang dipimpin oleh Ibu dan Bapak. Bangsa ini menitipkan tugas penting dan mulia pada ibu dan bapak sekalian untuk membuat masa depan lebih baik. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungi kita semua dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan kebudayaan nasional.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 5 Desember 2014
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Semoga dengan adanya surat edaran ini, semuanya makin jelas. Dan harapan saya, semoga anak-anak yang saat ini mengenyam bangku pendidikan tidak menjadi ajang eksploitasi dari uji coba penerapan kurikulum pendidikan. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang kelak menjadi penentu kemajuan bangsa. Sudah selayaknya ia mendapat pendidikan yang maksimal sesuai jenjang pendidikannya.

Komentar

  1. anak saya belum terkena K13 ini, jadi saya belum begitu tahu materi pelajaran di K13, dan kelebihan maupun kekurangannya. Tapi kalau melihat dari surat tsb, memang K13 ini tdk seluruhnya dihapuskan ya.... Semoga pendidikan di negara kita semakin maju ya...

    BalasHapus
  2. salam kenal Mak...
    Anak saya sudah menjalani kurikullum 2013 ini selama 1,5 th. Satu hal seneng karena nggak harus bawa buku banyak, hal lainnya, orangtua yang harus kreatif menambahkan wawasan karena buku tematik hanya inti sari saja. Apapun kurikulum yang akan berlaku semoga yang terbaik untuk anak2 kita.

    BalasHapus
  3. saya sudah baca surat edaran itu, Mak. Sudah banyak beredar di timeline saya hihihi. Kebetulan sekolah anak-anak saya udah berjalan 3 semester jadi gak termasuk yang kena dihentikan sementara. Tetap pakai K13.

    Kalau masalah ujian yang per tema atau enggak, sejak pertama kali sekolah saya menggunakan K13 juga beda-beda. Nanti per tema, trus ganti lagi per matpel. Begitu terus. Semua ada plus minusnya, sih. Walaupun enaknya memang seragam.

    Tapi, guru-guru di sekolah anak-anak saya terus memperbaiki. Ketika ulangannya menjadi per matpel, mereka membantu memberi tau halaman berapa aja untuk matpel tertentu. Misalnya untuk IPA hal sekian, sekian, dan sekian. Begitu juga untuk pelajaran lain. Mereka juga membantu bikin rangkuman serta contoh soal untuk masing-masing matpel.

    Ketika per tema juga begitu, mereka kasih tau tema berapa aja yang akan di uji. Kasih berbagai worksheet untuk dipelajari. Plus rangkuman juga.

    Jadi, apa yang dilakukan sekolah memang sangat membantu saya.

    BalasHapus
  4. oh ternyata yg diberhentikan itu hanya untuk sekolah-sekolah yang baru menerapkan kurikulum 2013 selama 1 semester kemarin saja ya... :)

    terima kasih sharingnya mak

    BalasHapus
  5. Makasih infonya.smg pendidikan mkn bagus lagi...blogwalking...salam kenal.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer