Mak….berbicara tentang pendidikan rasanya tiada habisnya. Pro
kontrapun kadang bergulir hebat dikalangan orang tua murid. Kurikulum pendidikan
yang berubah-rubah, materi pelajaran yang semakin sulit, seolah membuat mereka merasa khawatir akan nasib anaknya.
![]() |
Gambarnya miring xixixi |
Ada yang merasa tak nyaman bila anaknya bersekolah di
sekolah umum, sehingga mereka memilih sekolah favorit dengan biaya mahal. Ada yang
santai-santai saja memasukkan anaknya ke sekolah umum, bahkan ada yang
memutuskan homeschooling bagi pendidikan anaknya. Saya rasa semua kembali
kepada pribadi masing-masing, kita tak harus menjudge salah satu pilihan. Selama
anak nyaman di sekolah, tak perlu dipersoalkan kembali.
Beberapa waktu lalu sempat mencuat kasus 4 x 6 = 6 x 4. Bahkan
kasus serupapun sempat terjadi dimana-mana, sehingga banyak yang menganggap
kurikulum 2013 sebagai kurikulum yang memaksa anak-anak belajar melampaui
kemampuannya.
Mengapa kasus demikian bisa terjadi? Kalau boleh saya
berpendapat, hal itu dikarenakan kurangnya oknum guru memberikan pemahaman
kepada murid-muridnya, terutama tentang materi yang disampaikan. Memang sebelum
kurikulum 2013 diterapkan pada sebuah sekolah, hendaknya sekolah beserta
segenap jajarannya harus meninjau apakah semua sarana prasarananya sudah
memadai untuk diterapkan kurikulum baru? Bagaimana dengan tenaga pendidiknya? Murid-muridnya?
Fasilitas penunjangnya?
Semua itu harus disiapkan secara matang, agar semuanya siap
dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Dulu, karena ketidaktahuan saya mak,
sayapun menganggap bahwa kurikulum 2013 jauh lebih susah dibanding kurikulum
sebelumnya.
Ternyata berbanding terbalik dengan apa yang saya simpulkan.
Kebetulan guru kelas Fawaz adalah guru baru yang bener-bener masih fresh,
sehingga dia bisa menjadi guru yang baik bagi anak didiknya. Cara menjelaskannyapun
rinci, bahkan bagi murid yang belum mengerti, dia tak segan untuk mengulanginya
lagi. Dari sinilah akhirnya timbul semangat murid-murid untuk bersaing.
Sayapun takjub dengan perkembangan Fawaz dan teman-temannya.
Mereka berlomba-lomba mengumpulkan poin, karena kurikulum 2013 ini lebih
menekankan keberanian murid untuk berargumen, mandiri dan tidak takut salah. Setiap
tugas atau pertanyaan yang dilontarkan
pasti mendapatkan poin bila dijawab dengan benar, sehingga merekapun makin
bersemangat ke sekolah.
Demikian dengan Fawaz. Suatu hari badannya panas karena flu,
semalaman ia merengek, namun keesokan harinya ia tetap ngotot masuk sekolah
dengan alasan takut tidak dapat poin. Selain
itu untuk mata pelajaran di sekolah, tanpa saya jelaskan ulang di rumah, Fawaz sudah
mengerti dan menjawab soal-soal dengan benar.
Jadi, mari kita ambil sisi positif dari kurikulum 2013 ini. Tidak
semua yang diterapkan dalam kurikulum ini memberatkan muridnya, bahkan makin
membuat murid-murid bersaing mendapatkan poin di sekolah. Itu artinya anak-anak
bersaing untuk maju. Yah, semua itu harus ada kesadaran dari masing-masing
komponen. Guru hendaknya harus mempunyai tanggung jawab penuh terhadap
murid-muridnya, sehingga ia akan memberikan ilmunya secara maksimal. Demikian juga
dengan orang tua, disamping mendorong anaknya untuk rajin belajar dan sekolah,
iapun harus mampu menjadi guru di rumah, memberinya pengertian dan membantu
menjelaskan bilamana anak belum paham penjelasan gurunya di sekolah.
semua ada kekurangan dan kelebihannya ya mak... tinggal kita para ortu menanggapinya dgn bijak
BalasHapusKurikulum 2013 lebih condong pd penilaian sikap dan ketrampilan bu...:) ,
BalasHapus